HUKUM TIGA CORAK KEHIDUPAN
(TILAKKHANA)
Hukum mengenai tiga Corak kehidupan ini terdiri dari 3 (tiga) rumusan, yaitu :
Sabbe Sangkhara Anicca
segala keadaan yang berkondisi selalu berubah
2. Sabbe Sangkhara Dukkha
segala keadaan yang berkondisi tidak memuaskan
3. Sabbe Dhamma Anatta
segala Fenomena yang berkondisi tiada Inti Diri
ANICCA
Apapun yang selalu dalam perubahan (Anicca) akan menyebabkan ketidakpuasan (Dukkha) dan tanpa inti diri yang kekal.
Samakah Anda SAAT ini dengan :
1 tahun yang lalu ?
1 bulan yang lalu ?
1 minggu yang lalu ?
1 hari yang lalu ?
1 jam yang lalu ?
1 menit yang lalu ?
1 detik yang lalu ?
Tidak ada satupun yang tidak berubah, cepat atau lambat mengalami perubahan. Komponen terkecil dari benda yang paling padat sekalipun hanyalah gumpalan energi yang terus-menerus mengalir. Pikiran yang tidak terlatih bahkan lebih berkeliaran dan rentan untuk berubah. Kaidah anicca bersifat netral dan tidak memihak, tidak diatur oleh hukum apapun dan siapapun. Segala muncul dan berlalu secara alami.
Perubahan Janganlah selalu Diartikan secara Negatif
Dengan adanya PERUBAHAN memungkinan dan memberi kesempatan bagi kita untuk maju dan menuju ke keadaan yang lebih baik. Perubahan menunjukkan hidup ini tidak stagnan/ tetap, tetapi ada peluang yang lebih besar
Kita perlu memahami siklus kehidupan seperti kurva yang bergerak naik turun. Pada suatu saat di atas pada saat lain berada di bawah. Perubahan menunjukkan kesempatan orang memperbaiki dan menyempurnakan diri.
DUKKHA
Penderitaan timbul karena kita harus berpisah dengan apa yang kita cintai, berkumpul dengan orang yang kita benci, lahir, tua dan mati, tidak tercapai apa yang kita harapkan dan terlahir berulang-ulang.
Dukkha ada 3 (tiga) macam, yaitu : Dukkha pengertian biasa, Dukkha karena perubahan dan Dukkha karena keadaan berkondisi
ANATTHA
Benda-benda yang ada di dunia ini merupakan perpaduan dengan unsur-unsur lainnya secara berkesinambungan. Kontraversi seputar dokrin anatta tampaknya didasarkan pada ketakutan mendalam terhadap penyangkalan keberadaan jiwa/ roh.
Orang-orang masih sangat terikat pada kehidupannya. Mereka lebih suka menyakini bahwa ada sesuatu yang ada kekal, berlaku selamanya dan permanent di dalam diri mereka.
Pada saat orang menjelaskan kepada mereka bahwa tidak ada diri yang permanen, seperti jiwa/ roh. Mereka menjadi takut. Mereka bertanya-tanya bagaimana dengan dirinya untuk masa mendatang.
Buddha menyadari akan hal tersebut sebagaimana dapat kita lihat pada pertanyaan Vacchagotta, seperti pada kebanyakan orang takut dan binggung tentang konsep anatta.
Percakapan Biku Nagasena dengan raja Milinda
SIAPAKAH ”AKU” INI?
Kereta dan bagian-bagiannya (dipetik dari buku Milinda Panha):
Thera Nagasena: "Tolong jelaskan, apakah kereta itu. Apakah porosnya? Apakah rodanya? Atau saisnya? Atau kendalinya? Atau gabungan semuanya itu? Atau sesuatu di luar semua itu?"
Raja Milinda: "Bukan semua itu."
Thera Nagasena: "Kalau begitu, kereta ini hanyalah omong kosong.”
Raja Milinda: "Karena mempunyai semua bagian itulah maka ia disebut kereta."
Thera Nagasena: "Seperti halnya ada berbagai bagian itu, maka kata ’kereta’ digunakan, demikian juga bila ada unsur-unsur makhluk, maka kata ’makhluk’ digunakan.”
Manusia terdiri dari perpaduan dari :
Batin (Nama) (1) Perasaan (Vedana)
(2) Pencerapan (Sanna)
(3) Bentukan pikiran (Sankhara)
(4) Kesadaran (Vinnana)
Badan (Rupa) (5) Materi, jasmani, bentuk yang terdiri dari 4 unsur:
- Padat (tanah, pathavi)
- Cair (air, apo)
- Udara (angin, vayo)
- Panas (api, tejo)
Penting untuk diperhatikan !”
Saat semua unsur mental dan fisik tersebut dianalisa menjadi elemen-elemen, tidak akan ditemukan entitas/ keberadaan, seperti aku, jiwa, ego. Semua unsur itu bekerja berkesinambungan yang mana kita sebut manusia. Keakuan membeda-bedakan membuat dasar Penderitaan.
Saccaka dan para pengiikutnya menemui Buddha dan menanyakan dokrin tersebut. Buddha menjawab bahwa Beliau mengajarkan Anatta. Saccaka menyangkal. “Tidak benar, atta itu ada.” Buddha menjelaskan kembali, “Apa anda benar-benar yakin Atta itu ada ?” Mendapat pertanyaan kembali tersebut Saccaka merasa sangat malu. Karena kalau dia menjawab nama rupa itu atta, maka Buddha akan menanyakan kepadanya mengapa anda tidak mengubah wajah anda lebih tampan ?”
Dalam hal ini kita dapat mengerti jika Saccaka menyatakan memiliki atta maka dia memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk mengubah dirinya. Menurut Buddha, lima rupa tersebut bukanlah diri, karena merupakan subyek ketidakkekalan.
Dalam ANATTALAKKHANA SUTTA
"Biku, bagaimana menurutmu? Apakah tubuh/ perasaan/ pencerapan/ bentukan pikiran/ kesadaran ini tidak berubah atau berubah?"
"Berubah, Yang Mulia."
"Lantas yang berubah itu, apakah itu tidak memuaskan atau memuaskan?"
"Tidak memuaskan, Yang Mulia."
"Lantas yang berubah itu, yang tidak memuaskan itu, yang bersifat sementara itu, apakah pantas dianggap sebagai: 'Ini milikku; ini aku; ini jiwaku'?"
"Tidak, Yang Mulia.”
"Oleh karena itu, Biku, tubuh/perasaan/pencerapan/bentukan pikiran/kesadaran apa pun itu, apakah pada masa lalu, masa depan, atau sekarang; apakah kasar atau halus; apakah di dalam atau di luar diri; apakah kecil atau besar; apakah jauh atau dekat; harus dengan pemahaman benar akan segala sesuatu sebagaimana adanya, dianggap sebagai: 'Ini bukan milikku; ini bukan aku; ini bukan jiwaku'."
0 comments:
Post a Comment